Redefinisi Bisnis

Topik ini terangkat dari hasil mengikuti acara forum alumni MMUGM di Yogyakarta September 2017. Salah satu pembicara nya adalah founder dari salestock. Dia sangat mampu menceritakan bisnis apa si sebenarnya yang dia kerjakan sekarang ini. Hal ini membuat saya jadi bisa melihat bentuk langsung sebuah konsep mengenai redefinisi sebuah bisnis. Tulisan web Genta ini mencoba mengulasnya sedikit 🙂

Lebih jauh founder dari salestock ini pada awalnya menceritakan bahwa bisnisnya adalah menjual baju wanita. Pada sesi diskusi yang kebih dalam, bahwa bisnis yang ia geluti adalah bisnis data. Beliau menceritakan bahwa ini sama juga seperti facebook dan google. Mereka menggeluti sebuah bisnis data. Kemampuan salestock mendefinisikan bisnisnya ini membuatnya menjadi yang terdepan dalam industri bisnis ini.

Kemampuan pebisnis untuk mendefinisikan bisnis yang dimasukinya ini membuat sebuah bisnis akan berada pada market yang tepat dan bisa terus bertumbuh. Dalam arti lainnya bahwa bisnis ini sangat mengetahui mengenai konsumen yang ditujunya dan aktifitas harian bisnisnya.

Hal ini juga mengingatkan saya mengenai kata – kata Robert T Kiyosaki dalam salah satu bukunya (yang kalau tidak salah cashflow quadrant), bahwa bisnis yang digeluti oleh McDonald bukanlah bisnis hamburger atau makanan cepat saji, akan tetapi bisnisnya McD adalah properti. Hal ini yang diungkapkan salah satu pendiri franchise nya yaitu Ray Kroc. McD memiliki properti2 strategis di seluruh dunia.

Hal ini agak menyulitkan di saya pada awalnya untuk memahaminya lebih dalam (dan mungkin sampai sekarang terus mencari makna sebenarnya), jadi bagaimana kita bisa mendefinsikan bisnis kita dengan tepat. Dalam sebuah artikel oleh Daniel Burrus, diungkapkan bahwa contoh meredifinisi sebuah bisnis seperti yang terjadi dalam hal kebiasaan kita mendengarkan lagu. Cara kita mendengarkan lagu dulu dimulai dengan sebuah piringan besar hingga bertransformasi seperti sekarang sudah berada dalam bentuk soft copy yang bisa dipindahkan di berbagai perangkat digital. 

Dalam bisnis di Indonesia mungkin suatu fenomena yang telah berjalan dan terus berjalan bahwa dulu ketika kita belajar di sekolah formal, maka kita melanjutkan belajar di rumah. Saat ini, belajar pun ditambahkan dengan adanya bimbingan belajar. Kursus bimbingan belajar membuat kita belajar tidak perlu lagi di rumah, tetapi di tempat bimbingan belajar. Menurut hemat saya, ini salah satu redefinisi bisnis mengenai kebutuhan dasar kita untuk tambahan belajar selain di sekolah.

Bagaimana cara kita meredefinisi bisnis? Tentu harus sudah ada bisnis yang diredefinisi 🙂 Apabila kawan – kawan belum ada bisnis dan berencana membuka bisnis, maka penting untuk melihat dari bisnis yang saat ini sudah ada. Kita bisa mulai meredifinisi dari sana. Beberapa bisnis yang berhasil diredefinisikan, terangkum dalam tulisannya Jane Porter. Jane bercerita bahwa dari contoh sukses meredifinisi bisnis di US, ada tiga contoh sukses yang bisa dibuatkan menjadi tiga buah tips. Lengkap cerita ada di link web diatas, tapi aku coba rangkumkan tipsnya saja. Tips nya yaitu:

  1. Ganti fokus bisnis kita sesuai dengan peluang dan kebutuhan pelanggan yang actual muncul.
  2. Mengganti target geografis market kita.
  3. Mengganti target umur produk kita. Clue nya biasanya adalah pelanggan kita yang sering muncul.

Tiga tips ini muncul dari kisah sukses bisnis yang melakukan redefinisi. Bagaimana dengan bisnis kita masing2? Yuk berdiskusi di kolom komentar 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *